My Newest Book: ANAKKU SAHABATKU

September 4th, 2008 by mumtazstore

Ifa Avianty

Gema Insani, Depok, 2008

Genre: Nonfiksi, kumpulan esay.

            Bersahabat dengan anak bukan hal yang mudah. Kita sering lupa kalau mereka juga bisa sebijak orang dewasa, dan kita dapat mengambil pelajaran dari mereka. Kita juga sering lalai jika komunikasi yang kita sampaikan ternyata nggak nyambung atau bahkan tidak tepat. Perlu kebesaran hati untuk bersahabat dengan si kecil.

            Buku saya yang terbaru ini sebenarnya bukan menjabarkan tips dan trik bersahabat dengan anak ala pakar pendidikan. Tapi sharing pengalaman. Bahwa saya menemukan keindahan hikmah dalam persahabatan dengan anak-anak saya.

            Nah, jangan lupa cari buku ini ya. Edar mulai Agustus 2008.

(MY NEWEST BOOK): Kumpulan Essay MOMMIES CAFE

May 6th, 2008 by mumtazstore

Siapa bilang ibu-ibu nggak boleh curhat dan bergaul? Justru… wajib tuh. Tapi apa sih yang biasa dicurhatin para ibu muda? Nah, buku yang satu ini mencoba membuka apa sih yang biasa dicurhatin ibu-ibu muda kalau lagi ngumpul. Khas ibu-ibu muda metropolis banget. Bicara tentang anak, suami, diri sendiri, lingkungan, hingga Tuhan. Baca buku ini serasa mendengar curhat sahabat deh. Dijamin banyak hikmahnya dan bebas virus gosip. Terbukti!

Pesan dari sekarang, Buku Mommies Cafe karya ke 19 Ifa Avianty dengan gaya bahasanya yang khas… mengalir, lembut, dan feminin. Caranya kirim sms ke Mumtaz Publishing di +628129722932 dengan mengetik MC (jmlh pesanan) (Nama lgkp) (alamat lgkp+kode pos). LIMITED PUBLISHED!

Sneak Peek:

TENTANG PENYESALAN

Manusia memang makhluk yang paling diberi banyak kemudahan dan karunia oleh Allah. Tapi sekaligus juga makhluk yang paling sulit untuk bersyukur. Bahkan dalam masalah anak saja, banyak dari kita yang melupakan rasa bersyukur atas karunia terindah itu. Seorang teman saya, sebut saja namanya Wati, baru menikah sekitar setahun yang lalu. Ia dan suaminya punya program langsung punya anak. Tapi apa daya, Allah belum memberikannya pada mereka. Segala usaha mereka coba. Bahkan sampai program terapi medis pada sebuah rumah sakit terkemuka juga mereka ikuti. Hasilnya terlihat beberapa bulan kemudian. Wati teman saya itu positif dinyatakan hamil. Sudah tentu pasangan muda itu menyambut berita tersebut dengan penuh kebahagiaan. Mereka berharap akan dapat menikmati saat-saat penantian datangnya sang buah hati. Tapi apa yang terjadi kemudian? Ketika berjumpa dengan saya, dan ini beberapa kali terjadi, Wati mengeluh terus. Ya, seputar mual-mual, ngidamnya yang harus dan wajib dipenuhi sebab kalau tidak ia bisa uring-uringan sepanjang hari, juga soal rasa sebalnya pada sang suami. Saya pikir sih wajar. Saya juga mengalami hal itu kok, meski nggak samapai ngidam, muntah, dan apalagi sebal sama suami. Semua perempuan yang hamil muda pasti ada mengalami hal-hal tesebut. Yang cukup membuat saya sedih adalah keluhan Wati berikutnya.

Ia merasa berat, merasa tak seksi dan tak menarik lagi di mata suami. Lagipula, baju-bajunya jadi tidak cukup lagi. Ia jadi tak bisa mengikuti mode, ia berjilbab dengan pakaian kesukaannya, kaus ketat dan celana jins yang juga lumayan ketat.Wati bilang, ia belum siap mengganti kostumnya dengan baju hamil yang agak gombrong dan lebar. Padahal, di sisi lain, saya yang terbiasa memakai jubah atau rok-blus lebar sama sekali tidak merasa kesulitan ketika hamil. Bahkan ketika perut saya makin membesar sekalipun. Saya malah bersyukur, nggak perlu borong baju hamil lagi! Irit, toh? Disamping itu jilbab lebar yang biasa saya kenakan juga membuat perut dan insya Allah bayi saya merasa nyaman karena terlindungi dari panas.

Tapi Wati tetap Wati yang menurut saya banyak mengeluh. Ia tetap merasa berat dengan adanya kehidupan baru di dalam rahimnya. Ia merasa kemenarikannya dan kemodisannya, serta tentu saja kesehariannya, hilang terampas oleh si kecil dalam rahimnya. Di dasar hati saya yang memang rada sensitif ini, tiba-tiba merenung. Apa rasanya jadi si bayi calon anaknya Wati? Apakah ia juga bisa merasa nyaman tatkala sang ibu terus menerus mengeluhkan dirinya? Apakah sang bayi yang sangat terikat hati dan jiwanya pada sang ibu tidak merasa sangat bersalah telah membuat sang ibu ‘merasa susah’? Bukankah ia tak minta dititipkan di rahim sang ibu? Bukankah sang ibu dan sang ayah yang tadinya begitu berharap akan dirinya?

Saya pernah membaca sebuah cerita karya penulis perempuan dari Italia, Clara Schiavolena, berjudul “Clementina”. Isinya tentang penuturan seorang bayi dalam rahim seorang ibu yang malang. Ibu ini cantik jelita menikah dengan seorang tukang batu yang cukup tampan. Hanya sayang mereka menikah setelah sang bayi ada dalam perut sang ibu. Sementara itu kehidupan mereka yang amat miskin membuat si ibu muda ini sakit-sakitan. Parahnya si ayah kerjanya mabuk-mabukan, berjudi, dan — astaghfirullah— berselingkuh dengan adik kembar si ibu. Perjuangan kala melahirkan yang berat membuat si ibu tak tertolong. Si bayi mungil yang tak berdosa hadir ke dunia tanpa diacuhkan oleh orang-orang sekitarnya.

Hari-hari berlanjut, aku dan ibu sama-sama saling bertahan. Aku mulai menendang perutnya dan dia mengeluh “Mengapa kamu tidak bisa tenang? Kamu harusnya malu pada dirimu sendiri”. Aku ingin berkata betapa aku sangat mencintainya. Tetapi aku tidak dapat bersuara. Pun berkata-kata. Aku menggulung seperti sebuah bola kecil dengan dagu di atas lutut, agar tidak menyusahkannya. Mungkin aku akan bungkuk ketika lahir nanti. Sekarang aku mengetahui keadaan ibu, hampir setiap hari ia demam, pun aku memaafkannya bila ia mengomeliku. [1]

Dia meneguk pil coklat dan harus mondok di rumah sakit, di sana dipompanya isi perutnya dan menjadikannya sehat dan bersih. Tetapi aku punya penyakit liver. Untuk beberapa saat aku berhenti untuk mencintainya karena ia terlalu sembrono. Selain membahayakan hidupnya, dia juga telah membahayakan diriku. Ibu pergi ke seorang pastor untuk membuat pengakuan. Dia membebaskannya dari keragu-raguan. Mengapa dia tidak menyuruhku untuk membebaskannya juga? Mengapa dia tidak juga berkata,”Maafkan aku, anakku” ?[2]

Akhirnya aku sadar, jika aku ingin hidup aku harus bertindak cepat. Ibu mungkin akan meninggal sebelum melahirkanku. Aku memilih posisi yang terbaik. Kutarik kepalaku ke bawah, kaki di atas, dan seperti itulah waktu bidan datang. Sekarang harus dibawa ke mana? Dia berkata kepada ibu yang sedang merintih di atas tempat tidur dan mencoba memindah alasnya. Dengan geram kusiramkan air ketuban yang baunya menyengat di mukanya. Dia menarik kepalaku… …Aku datang ke dunia dengan kedinginan dan kegusaran, sedangkan ibuku hampir setengah mati. Bidan yang lainnya mencuciku dalam sebuah baskom. Airnya sangat panas seakan-akan mengulitiku. Dengan kasar mereka membungkusku dengan selimut tebal, masih terasa dingin walau ini sudah hampir musim semi… Tidak ada harapan bagi ibuku. Paru-parunya telah rusak, ayah memandangiku dengan perasaan benci. Malang benar nasibku. Aku tidak akan datang ke dunia tanpa aku dicintai. Teman dan saudaraku merubung tempat tidur ibuku, mereka mengacuhkanku dan membenciku… Segera datang dua orang laki-laki, mereka sepertinya petugas kepolisian, mereka bersenjata pentungan. Mereka membawa sebuah kotak besar untuk membawa ibuku. Di depan mataku, dia membawanya, tanpa meminta izinku, atau kupikir mereka tidak menghiraukanku, yang tercekik kain bedong, kedinginan serta kepanasan terkena air. Mereka merampasnya dariku selamanya, sebelum ia memberiku ciuman selamat malam, sebelum aku sempat melihat warna matanya, sebelum ia sempat mengetahui warna kulitku, sebelum dapat berbagi rasa dalam kehidupan di dunia…Semuanya yang aku miliki telah pergi meninggalkanku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa selain menangisinya.[3]

Sungguh, saya menangis setiap kali saya mengulangi membaca cerpen ini. Betapa seorang bayi lucu calon anak kita juga bisa merasakan apa yang kita rasakan. Ia tahu kalau kita amat mencintainya. Demikian pula ia akan merasa bila kita membencinya atau mengeluh atas keberadaannya. Betapa tidak, diinginkan atau tidak, ia adalah belahan jiwa kita, yang separuh darah kita ada padanya. Yang nafas kita ada pada desah nafasnya. Lalu bila kita menyesali mengapa ada dia dalam rahim kita, bagaimana jadinya? Masa-masa kehamilan yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan dan rasa syukur bagi ibu, yang juga akan mengalir kepada sang bayi, tentu tak akan terwujud.

Ada sebuah cerpen lagi yang saya baca tentang seorang janin yang tak diharapkan hadir, akibat pergaulan bebas ibunya. Ayahnya kabur tak mau bertanggung jawab. Segala cara telah dilakukan untuk melenyapkan sang bayi tak berdosa ini. Alhamdulillah, ibu muda tersebut akhirnya mendapat pencerahan setelah bertemu dengan sahabatnya, seorang muslimah yang baik akidahnya. Ibu muda itu menjadi lebih siap menyambut kedatangan sang bayi ke dunia. Cerpen ini ditulis oleh sahabat saya, Muthmainnah dengan judul “Episode Fetus”.

Tak ada pilihan lain. Rapat kedua memutuskan Fe harus pindah atau kalau tidak mau akan diusir dengan cara apapun. Kenapa Fe disalahkan? Kenapa? Andai Bunda tahu, saat ini, tepat di ulang hari ke-120 Fe tinggal di rumah Bunda, Fe mendapatkan SK untuk tetap eksis di tempat kos, baik di rumah Bunda, atau di belahan bumi manapun. Mula-mula Nenek memberikan ramuan-ramuan untuk mengusir Fe. Tahu deh. Pokoknya pahit-pahit, dan Bundapun memakannya, juga untuk mengusir Fe. Kenapa Bunda? Padahal Bunda yang mengizinkan Fe datang ke tempat ini. Dan kini Bunda mengusir Fe. Oh…[4]

Bila memang kita sempat menyesali kesalahan atau ketidaksiapan kita menjadi ibu, itu wajar saja, dan saya rasa itu bagian dari pertobatan. Juga ketika kita sempat merasakan perubahan yang ‘mengganggu’ saat awal kehamilan. Tapi bukankah anak kita tidak punya andil kesalahan apa-apa? Maka bukanlah haknya untuk menjadi tumpahan kekesalan, kekecewaan, penyesalan, atau bahkan ia jadi tersia-sia karena beban penyesalan kita. Biarkan ia menyambut hari-hari menjelang kehadirannya di dunia dengan sepenuh bahagia, dengan berlumurkan cinta dari ibu, ayah, dan orang-orang terdekatnya.

Selamat datang ke dalam cinta ibu, nak. Tanda cinta utk calon anakku. Ciputat 2001.

REVISED CINERE 040605

——————————————————————————– [1] Petikan dari “Clementina” oleh Clara Schiavolena, dalam antologi “Tiga Abad Perempuan” Editor Betzy Dinesen, terj. CTS Univ. Muhammadiyah, PT. Fajar Pustaka Baru, Jogjakarta, 2000. Hal. 8 [2] ibid, hal. 10 [3] ibid. hal 16-18. [4] Petikan dari “Episode Fetus” oleh Muthmainnah dalam antologi cerpen “Tembang di Padang”, Asy-Syaamiil, Bdg, 2000. Hal. 59.

(BUKU BARU SAYA LAGI): Kumcer Sebab Cinta Tak Bermata

April 28th, 2008 by mumtazstore

(MY NEWEST BOOK): Kumcer Sebab Cinta Tak Bermata Apr 28, ‘08 5:11 AM
for everyone

Berjuta kisah tertulis sejak zaman Adam dan Hawa tentang cinta anak manusia. Cinta yang lebih banyak menggunakan feeling dan bukan mata hati terbukti menguar tragedi.

            Kumpulan cerpen istimewa ini mengajak anda mengarifi cinta. Bahwa cinta memang sering tak bermata, namun jika kita bertanya pada nurani, kita akan menemukannya di sana.

            Sebab Cinta tak Bermata, berisi 15 cerpen istimewa karya Ifa Avianty, dengan ciri khasnya yang lembut, romantis, bertutur mengalir, dan berhikmah.

            Dapatkan segera buku terbitan Mumtaz Publishing ini. Hanya dengan sms ke +628129722932 dengan mengetik SCB (jlmh pesanan) (nama lgkp) (alamat lgkp+kode pos). Anda akan segera menerima konfirmasi pemesanan dan tata cara transfer.

            LIMITED PUBLISHED!!

Sneak Peek:

Blind Date

Malam sudah masuk ke peredaran langit sejak tadi. Huhhh…bete juga, dari tadi belum satu pe-er Fisika Material yang kukerjakan. Cuapekkk… Heran, pak Indra itu nggak ada bosen-bosennya ngasih PR. Mana harus pakai bahasa inggris pula lagi jawabnya. Mikir ngitung dan mencocokkan rumusnya dalam bahasa indonesia saja sudah kayak mau mati, ini lagi pakai bahasa inggris. Susah deh!

            Apa dia pikir semua mahasiswanya sepintar dia kali ya? Huh, siapa sih yang nggak mau sepintar dia? Doktor dalam bidang Material Physics dari Cambridge Uni di Inggris sana. Lulus cum laude dalam usia yang belum lagi tiga dua. Hiyyy… merinding!

            Coba, kamu bangun dulu, Dith. Kamu ngaca gih sana.

            Aku bangkit dengan segan. Kulihat bayanganku di cermin. Rambut kusut masai, jarang ketemu sisir. Maklum, sejak jilbaban aku punya pandangan agak eksentrik, ngapain sisran kan nggak ada yang lihat? Hehehe… nuts! Trus… mmm apalagi ya?

            O ya, badan kurus tinggi, kayak kurang gizi. Maklumlah, namanya juga akhwat aktivis dengan jam terbang tinggi. Yang baru sempat makan diantara kuliah, ngisi kajian, rapat kastrat dan sospol, rapat syuro pembinaan kampus, dan segala nama yang ‘syerem’ itu, atau diantara praktikum yang kadang nyaris membuatku tewas sebab kelamaan berdiri.

            Kugaruk kepalaku yang tidak gatal. Hmmm… bandingkan dengan pak Indra ya?

            IP-ku? Ah, memikirkannya aku mau nangis saja, dan dipastikan bakalan banjir air mata pula. Bayangkan hingga semester jauh gini, semester delapan, bo, IP-ku tidak bergeser dari dua koma dua saja.  Padahal pula, masih banyak mata kuliah yang belum kuambil, sebab aku masih juga mengulang beberapa mata kuliah. Nyerok terus, boro-boro nyodok! Resiko aktivis? Hiii… aku nyengir pahit.

            Usiaku? Hiii… sudah dua dua, dan belum ada tanda-tanda mau wisuda segera. Nikah? Hehehe…  apalagi! Kalau kata anak-anak sekelasku, aku termasuk kategori high quality jomblo. Bangga? Tak tahulah. Aku toh tetap keukeuh dengan keyakinanku bahwa nggak ada pacaran dalam islam. So ngapain malu dengan istilah jomblo? Kalau kata Jazima, sahabatku sesama aktivis kampus, kita ini jojoba, alias jomblo-jomblo bahagia. Ya, bahagia, sebab kita tidak resah dengan kejomblo-an kita. Sebab kita masih bisa wara-wiri kesana kemari sementara banyak akhwat seusia kita yang sudah ‘repot’ dengan bayi dan balitanya. Hehehe… ini apologia atau apa ya?

            Nah, sekarang lihat ‘musuh’ kamu itu, Yudith sayang. Pak Indra itu.

            Performance-nya, rapi jali, wangi, sisiran terus, ketara dari rambutnya yang meskipun cepak tapi licin terus, kalau pakai kemeja juga matching sama celana panjangnya dan… wangi pula. Aih… Yudith, kamu kok intens banget sih merhatiin beliau? Nah… yhaaa…. Ghadhul bashar please, ukhti!

            Ini mah bukan karena nggak ghadhul bashar, bela sudut hatiku yang lain. Lha wong kelihatan kok. Jadi jika disandingkan antara aku dan pak Indra, orang bisa dengan mudah membedakan mana yang terawat dan mana yang tidak.

            Kalau soal makan? Mmm…setahu aku sih, pak Indra itu orang yang nggak neko-neko soal makanan, hanya memang dia selalu makan tepat waktu, maksudnya kalau pas papasan di kantin, sementara aku lagi ‘rapat informal’ atau mengerjakan PR (atau nyalin? J ), dia pasti lagi tekun menghadapi sepiring gado-gadonya. Hehehe… intens kan? Husy!

            Pintar? Ah, ini mah nggak usah dibahas lah. Bikin makin bete. Aktif? Pak Indra itu hingga sekarang masih jadi pembina rohis universitas lho. Dia juga aktivis sebuah partai islam. Selain itu aktif di kepanduan, pencinta alam, dan kayaknya sih rajin olahraga juga, soalnya badannya lumayan atletis.

            Hei, ukhti, stop! Makin menjurus neeh…

            Ntar dulu. Dia itu juga masih jomblo. Kalau kata anak-anak juga (yang cewek terutama), dia itu most wanted man to die for di kampus ini. Deeu segitunya! Kalau kata si Ata, yang bakat banget jadi host acara infotainment, pak Indra itu the highest quality jomblo ever di kampus ini. Hah?!

            By the way, kalau dia masih jomblo, so what gitu lho, Yudith?

            Errr… Aku tersenyum malu. Anyways, kali aja… ntar dia nikahnya sama akhwat siapa gitu…

            Ya, yang jelas nggak mungkin sama kamu lah, Dith. Bainassama’ wassumur bur… alias antara langit dan sumur bor bedanya antara kamu dengan dia. Sudahlah, Yudith, stop dreaming! Back to your horrible homework! Buruan!

            Namun, aku mendadak hilang mood. Jomblo. Ya, sebuah kata yang pada hari gini terasa kadang begitu menyayat. Duuuh… istilahnya! Ya, soalnya banyak banget yang bilang gini padaku, terutama temen-temen sekelasku dan temen se SMU-ku yang kebanyakan belum lagi hijrah (maklum, dulunya aku kan anak SMU RP yang mayoritas katolik itu, no wonder juga sih), “Hare gene masih jomblo? Kasiaaan deh luuu, Dith!”

            Biasanya dengan nada yang bittersweet gitu aku menjawab, “Ya so what gitu lho?”

            Ah, ya so what?

            Ya, begini ini jadinya. Nggak bisa jaga pandangan. Coba bandingkan sama Sintha, adik kelasku, anak semester enam, yang sudah married setahun lalu. Dia nikah dengan anak Sipil tiga tahun di atasnya, sudah alumni tentu. Dia terlihat lebih adem, tenang, bahagia, nggak suka ‘diam-diam ‘hunting high and low’ kayak aku… Duh… emang enak jadi jomblo?

            Sayang sekali ternyata jawabannya adalah ‘tidak enak’, sista!

            Terus mau gimana lagi? Kan memang jodohnya belum datang. Masak kamu mau playing God sih, Dith? Kamu ngatur Tuhan gitu, ya Tuhan, tolong dong jodohku datang sekarang, saat ini juga. Desperate banget nih! Ha? Pardon?

            Sudah separah itukah kamu, Yudith sayang?

            P-A-R-A-H, hingga nyaris berdarah?

            Istighfar dong, Dith. Banyak sekali akhwat yang usianya tiga kali lipat kamu juga belum dapat jodohnya. Kenapa kamu jadi segitu resenya sih? Takdir orang kan nggak mungkin tertukar gitu. Ya artinya, ini memang jalannya kamu. So, jalani aja lah…

            Kepalaku berdenyut kencang. Aduhhh…

            Sesekali ingat juga sama ibu di Padang sana. Yang tiap telpon pasti bilang gini, “Dith, kamu dah punya calon belum? Mau ibu kenalkan sama anak temannya etek Risa? Cakep lho, dokter di Padang, lagi ambil spesialis kandungan…”

            Atau, “Ini ada notaris di Pariaman, kawannya Do Usman anak Etek Indar. Mau kau ibu kenalkan?”

            Dan yang terakhir, tiga hari lalu. “Kau ini gimana Dith? Kuliah belum juga kelar. Calon belum ada. Apa saja kerjamu ha? Anak daro indak baik pilih-pilih. Mana pula kau tu indak jelas maunya apa… pusing ibu kaubuat. Dulu lulus SMP kau maunya merantau ke Bogor, ibu izinkan. Indak taunya kau malah makin aneh saja”.

            Brrrr… ingin rasanya aku mengecil menjadi kodok. Agar ibuku tak lagi mengejar-ngejarku tentang kuliah dan jodoh. Agar aku bisa berharap jika ada seseorang yang benar-benar tertarik padaku, aku bisa menjelma menjadi seorang putri. Hahaha… ngayal terus aja, Dith! Kutimpuk cerminku dengan bantal SpongeBob kesayanganku.

(BUKU TERBARU SAYA): Novel JEJAK2 KEMBARA CINTA (ONE IN A MILLION)

April 21st, 2008 by mumtazstore

Siapa bilang memiliki harta berlimpah, ketampanan dan kecantikan, dan kecerdasan berarti pula sudah menggenggam dunia? Bagaimana dengan cinta?

            Mereka yang kita sebut sebagai ‘penghuni negeri dongeng’ menyimpan kegelisahan … dimana letaknya cinta sejati itu. Enam pangeran keluarga Bratalegawa yang ‘memiliki segalanya’ berkelana mencari cinta, mengembara di berbagai kota di dunia. Siapakah half soul mereka? Benarkah bahwa menemukan cinta bagi mereka akan semudah menamatkan pendidikan?

            Temukan jawabannya dalam novel romance berjudul ‘Jejak-Jejak Kembara Cinta’ karya Ifa Avianty. Buktikan bahwa kekayaan bukan berarti bisa memiliki segalanya dengan cepat dan mudah.

            Penulis telah menghasilkan 5 novel dengan ciri khas romantis, mengalir, dan menyentuh. Jangan lewatkan novel ini. Segera pesan ke Mumtaz Publishing hanya dengan sms ke +628129722932 dengan mengetik: JKC (jmlh pesanan) (nama) (alamat lgkp+kode pos).

            Anda akan segera menerima sms konfirmasi pemesanan dan tata cara transfer dari Mumtaz Publishing.

            LIMITED PUBLISHED!

Sneak Peek:

Jam 4.30 dini hari, jalan tol Jagorawi masih dibasahi gerimis. Licin dan lumayan sepi. Sesekali wiper Odyssey-ku menghalau kabur di kaca depan. Alphard-nya Rahadi masih terlihat di depanku. Dasar aneh. Licin-licin begini malah ngebut.

            Tiba-tiba HP-ku berdering.

            Rumah.

            

Ada

apa?

            Sejenak batinku gelisah. Sementara rasa sakit di pangkal pahaku tidak juga hilang. Allaaah…

            "Halo".

            "Bu, ini mbok Jum… Mas Ipan… bu…".

            "Irfan kenapa, Mbok?"

            Huhuhu… kudengar suara tangis mbok Jum di ujung

sana

. Jantungku berdetak sepuluh kali lebih keras.

Ada

apa dengan Irfan?

            "Mbok, Irfan kenapa?"

            "Mas Ipan… mas Ipan… kabur, Bu…".

            Astaghfirullah…

            "Kabur? Kok bisa? Sudah dicari sekeliling rumah?"

            Tangis mbok Jum malah menggema histeris.

            "Mbok…"

            "Iya, Bu. Maap Bu… kita udah nyari di rumah, sampai gang kampung belakang… gak ada, Bu…".

            "Kabur dari mana dia?"

            "Dari… jendela kamarnya, Bu… mungkin lewat pintu kucing di pagar samping… Maap ya Bu…".

            "I…iya, Mbok, saya segera pulang. Terima kasih ya Mbok".

            Tangis apa lagi ini? Air mataku berpesta bersama hujan…

            Tepat saat itu dari arah berlawanan samar kulihat sebuah truk semen tiba-tiba menghantam pagar pembatas jalan tol, menerjangnya dan berbalik arah…

            Aku memejamkan mata sambil menekan pedal rem kuat-kuat bersamaan dengan terdengarnya suara benturan keras memekakkan telinga. Segala doa yang kuingat segera kurapal.

            Ciiiiit… Ban mobilku berdecit hanya beberapa meter di belakang… Alphard yang dikemudikan Rahadi… yang… hancur…

            Jiwaku terbang…

            Aku menerjang tanpa peduli. Truk sial itu rupanya ringsek juga setelah kembali menabrak pembatas jalan tol. Aku hanya ingin bertemu Rahadi!

            

Susah

payah aku dan beberapa petugas yang segera datang mengeluarkannya dari mobil yang ringsek. Bagian depan Alphard menabrak pembatas sementara belakangnya melesak ke depan akibat tertabrak truk. Dan Kekasihku bersimbah darah tak sadarkan diri. Ia terjepit stir, dan wajahnya terkena pecahan kaca depan.

            Aku ingin memeluknyaaa… tolong…

            "Bu, minggir, Bu, biar korban kami bawa ke RS segera". Seorang petugas mendorongku.

            Aku meradang. Kudorong balik dadanya. "Minggir! Kamu yang minggir! Ini suami saya! Biar saya yang bawa!"

            Petugas itu tampak jengkel. "Ibu ini gimana sih? Suaminya sekarat malah heboh!"

            "KAMU YANG DODOL! MINGGIR!"

            Petugas yang lain segera menengahi kami. Huh hampir saja aku cakar muka petugas berkumis sok wibawa itu.

            Malam itu juga Rahadi dibawa ke RS UKI. Sementara aku tak henti-henti menelpon mengurus ini dan itu untuknya dan Irfan… Allah, tolong dampingi aku, kuatkan aku…

            Dengan perih hati kuusap darah suamiku yang mengotori baju dan cardiganku. Rahadi, bertahanlah… demi kita, demi anak-anak kita, demi cinta yang baru saja akan kita tata kembali… Rahadi, I love you…

            Sambil menangis, kubuka kembali sms terakhir dari Rahadi. Hanya 5 menit sebelum tragedi maut itu.

            Ingatkah engkau kepada

            embun pagi bersahaja

            yang menemanimu sebelum cahaya

            Ingatkah engkau kepada

            angin yang berhembus mesra

            yang

kan

membelaimu cinta…

            (Petikan syair lagu ‘Sebelum Cahaya’ by Letto)

            

            Ya… hanya engkau, Rahadi, hanya engkau embun pagiku… apapun yang telah kaulakukan padaku…

Irfan

            Cahaya, mengapa jauh sekali engkau? Tahukah engkau bahwa kaki-kaki kecilku capek sekali? Lihat… ujung jempolku sepertinya bengkak.

            Mengapa engkau kelihatannya dekat sekali? Ternyata sampai sekarang aku tidak juga sampai padamu. Aku lapar, haus, dan dingin… Brrr… baju dan rambutku sudah basah semua sekarang…

            Huhuhuhu…

            Bundaaaa…

Nana

            Capeeek…

            I lost my Princes in one day. Dan hingga kini belum ada kabar lebih pasti tentang keduanya.

            Aku sudah lapor polisi perihal kaburnya Irfan. Melihat kemampuannya mungkin Irfan kabur tidak jauh-jauh dari rumah. Tapi kemana? Mbok Jum, Iroh, pak Adun sudah bergantian menyusuri kompleks kami dan wilayah sekitarnya tapi nihil.

            Huhuhu… pangeran kecilku pasti ketakutan, kelaparan, kehausan, dan kedinginan sekarang. Dimana engkau, Sayang?

            Bagaimana kalau ia diculik? Dianiaya? Dijual? Dijadikan pengemis? Atau… dibunuh? Tidaaak! Jangan sampai, Tuhan… Biarlah aku mempertaruhkan seluruh nyawaku demi anakku…

            Aish yang duduk di sebelahku di bangku tunggu RS sedari tadi juga menangis terus. Ia ingat adik dan ayahnya. Kedua Oma dan Opanya juga mondar-mandir terus dan kadang bertanya sesuatu yang malah bikin aku tambah stress.

            Sementara suamiku baru selesai dijahit wajahnya setelah dokter berhasil mengeluarkan beling-beling. Ia masih kritis. Tulang dadanya ada beberapa yang patah, demikian pula kakinya. Yang gawat, mata kirinya harus dioperasi karena kena pecahan beling pulang. Hingga kini team dokter masih menunggu masa kritisnya sampai ia cukup siap menjalani operasi bedah mata.

            "Nyonya Rahadi".

            Gegas aku berdiri menghampiri Dokter Bahri, ketua team dokter yang menangani suamiku.

            Kedua pasang orangtua kami juga ikut mendengarkan dengan seksama.

            "Ya, Dok. Bagaimana suami saya?"

            "Sudah bisa ditengok. Hanya belum pulih betul. Masih belum sadar betul. Sebentar lagi sisa biusnya selesai bekerja. Tolong dijaga, jika beliau siuman, jangan sampai stress. Khawatir berpengaruh terhadap kondisi pra-operasi".

            Dokter senior itu mengangguk menenangkanku yang tidak sabar ingin buru-buru menemui suamiku.

            "Dok… emmm… kalau kemungkinan operasinya gimana ya?". Takut-takut aku bertanya.

            Dokter Bahri menarik nafas. "Jika gagal, dikhawatirkan ia tidak bisa lagi memfungsikan mata kirinya. Tapi kita sama-sama berusaha dan berdoa untuk yang terbaik ya, Bu…"

            "Iya, Dok, Terima kasih…"

            Dengan tangannya Dokter Bahri mempersilakan kami masuk perlahan-lahan.

(MY NEWEST BOOK): Menjaring Angin Membadai-Kumcer

April 14th, 2008 by mumtazstore

MENJARING ANGIN MEMBADAI

Sebuah Kumpulan Cerpen (22 cerpen) yang memotret kehidupan manusia-manusia urban, yang ricuh dengan berbagai sisi kehidupan. InsyaAllah penuh hikmah dan pembelajaran.

Out Now!

Dalam bentuk cetakan  (bukan e-book lagi).

Penerbit: Mumtaz Publishing, Depok.

Silakan pesan sekarang HANYA DENGAN SMS ke +628129722932 dengan menulis MAM (jumlah pesanan) (nama lgkp) (alamat lgkp +kode pos).

Setelah itu anda akan mendapatkan sms konfirmasi nomor pemesanan dan kepastian tata cara transfer.

Jangan sampai kehabisan lho! Stock terbatas!

Sneak Peek (5 of 22 short stories inside):

Cinta Masa Lalu

Namanya Heidy. Ia cantik melebihi layaknya putri-putri dari tatar Pasundan atau Sumedang Larang. Kulitnya putih mulus seperti bule. Pakaiannya bagus-bagus (maklum anak orang kaya, berbeda kelas denganku yang hanya anak pembantu rumah tangga mereka). Pintar bahasa inggris, jerman, perancis, dan belanda. Jago dansa. Dan baik budi pula.
“Pagi, non…” Kubungkukkan badanku sempurna di hadapannya. Kuharap sejenak ia akan sempat memperhatikan betapa tegap tubuhku yang berkeringat matahari ini.
“Pagi, Kang Usman…”
“Mau saya petikkan kembang apa pagi ini, non?”
Lalu matanya yang jeli itu bergerak-gerak lucu. Aku terpana. Cantiknya dikau, putri…
“Melati saja, Kang. Saya ingin meronce bunga itu. Nanti malam ada pesta anak kompleks… “
Boleh aku ikut, putri?
Oh, tentu itu hanya kutinggal dalam hati saja. Tak mungkin aku berani mengucapkannya di depan putri kahyangan ini. Sadar diri!
Dan begitulah, hari demi hari, kutanam cintaku yang begitu dalam pada gadis itu. Hingga terlalu dalam. Amat dalam.
Maka aku luka parah tatkala selulus SMA, ia pergi ke Belanda untuk melanjutkan kuliahnya. Kucoba menyemai keyakinan bahwa ia akan kembali untukku. Sebab sebelum ia pergi kusempatkan menulis sebuah surat pendek yang kuselipkan di jendela kamarnya.
Bunyinya:
Apakah salah jikalau seekor semut tanah mendamba bunga anggrek bulan?
Jika tidak, maka akan kutunggu engkau putri…
Dari Kang Otto alias Usman.

Handphone Itu

“Jadi gimana, mbak? Jadi beli yang ini?” tanya mbak pramuniaga yang agaknya mulai bosan melihatku yang hanya bolak-balik kayak setrikaan panas sambil mengagumi hp lucu itu.
Aku menggigiti kuku telunjuk tangan kananku, pertanda aku bimbang.
Rupanya mbak pramuniaga menangkap kebimbanganku itu.
“Bisa diskon kok kalau mbak mau. Atau mau ditambah paket perdana. Mau Simpati, Kartu As, Mentari, IM3, atau Kartu Bebas?”
Waduuuh, satu kartu saja aku lumayan ngap-ngapan ngasih makannya tiap bulan, batinku.
Sejenak terlintas bayangan anak-anakku. Ah, bayaran sekolah mereka sudah lunas, begitu juga bayaran TPA mereka di masjid. Susu, makanan, dan segala macamnya? Oh, alhamdulillah untuk bulan ini aman dan damai.
Tabunganku? Aku berpikir keras berusaha mengingat saldo terakhir ATM-ku. Yang jelas ada dua juta lebih sedikit. Sedikitnya itu berapa? Yah, pokoknya cukuplah sebagai ganjal ATM hingga menunggu transferan honor atau royalti berikutnya.
Nah… nah… so what gituloh?
“Yah, sudah deh, mbak, berapa diskonnya?”
Si mbak pramuniaga mengembangkan senyum termanisnya.
“Lima puluh ribu, deh, buat pelanggan spesial kayak mbak ini”
Ha? Lima puluh ribu?
Itu mah bukan diskon, tapi sekedar basa-basi doang!
“Kurang dua ratus ribu deh, mbak. Ntar saya ambil kok”
Si mbak langsung menatapku dengan ekspresi: what?-dua-ratus-ribu?-please-deh-niat-beli-gak-sih?
“Bisa nggak, mbak?” Aku masih ngeyel. Maklum turunan pedagang. Ayah dan ibuku di Padang Panjang sana kerjaannya kan jualan baju di Pasar.
“Lima puluh, mbak, nah, bawa pulang deh ntu hp sama bonusnya”
“Bonus? Bonusnya apa mbak?” tanyaku. Wah boljug nih kalau ada bonusnya!
“Kantung kertas dengan logo gerai kami ini” jawab si mbak bete.

Menjaring Angin Membadai

Dan inilah aku, Venny, seorang istri yang mencoba menjadi detektif untuk mengamati suaminya sendiri. Betapa menyebalkannya. Seperti kisah dalam sinetron-sinetron saja. Istri yang membuntuti suami selingkuh. Huh, kurang kerjaan apa?
Tapi aku penasaran. Lagipula jika terjadi apa-apa nanti, setidaknya aku punya bukti.
Kuikuti diam-diam mobil suamiku (tepatnya mobilku yang dipakai suamiku) kemanapun ia pergi selepas jam kantor. Ke café, pub, resto, mall, bahkan… sesuatu yang membuatku bergidig… hotel dan resort, untuk pengakuannya tentang ‘dinas luar’, ‘konferensi para dosen’, dll yang ia pikir aku ini tidak faham apa pekerjaan dosen biasa yang tidak memegang jabatan struktural sepertinya.
Kutata kepingan hatiku yang hancur lebur. Kususut air mataku dan kusesali jatuhnya untuk sesuatu yang kuanggap sia-sia kemudian. Kuikatkan hati dan jiwaku pada Keisha dan Hafiz, buah hatiku. Aku bangkit dalam diam, meski Aning bilang, aku kelihatan lebih pendiam dan perenung akhir-akhir ini.
Ada satu komentar Aning yang sangat pedas, yang bahkan aku sendiri sangat menahan diri untuk tidak membicarakan dan bahkan memikirkannya. “Gila ya, kakak iparku itu nggak tahu diri banget sih? Kan kamu yang selama ini kerja keras menafkahi keluarga, usaha ini dan itu, hingga semaju ini. Eh dia kan hanya ngajar-ngajar gitu doang, di swasta nggak asyik pula! Kok berani-beraninya dia berbuat begitu?”
“Aning! Dia kan masih kakak iparmu!” sentakku.
Aning terdiam. Lalu tanyanya dengan nada rendah, nyaris berbisik, “Sampai kapan? Mengapa kamu begitu baik, Ven? Mungkin jika mas Bambang yang begitu, aku sudah sejak lama mengusirnya”
“Aku akan memenangkan kebenaran dengan cara yang elegan, Ning. Kamu lupa? Aku sejak kecil adalah seorang petarung sejati. Dan kali ini aku akan bertarung menjaga rumah tanggaku, dengan atau tanpa dia, dengan cara yang smart. Jadi tidak dengan usir-usiran segala, Ning” Kurasakan kata-kataku begitu dingin. Aku sendiri bergidig mendengarnya.
Aning tersenyum lalu memelukku dengan haru, “Keep on fighting, sis! Aku ada di belakangmu” isaknya.

Senandung Maaf

Suatu hari saat aku masih juga merasa hampa…
“Bisa kita bicara, Sandra?”
“Oh… ya. Apa kamu mau gantian curhat?”
“Tentu saja tidak. Aku punya istri yang enak dijadikan tempat curhat…”
Aku tercekat. Maksudnya apa sih?
“Mmm… maksudku… ini juga tentang dia”
“Istrimu? Siapa namanya? Rulita?”
“Ya, Ruli. Aku banyak cerita tentangmu padanya”
Kembali aku tercekat. Akan marahkah istrinya? Apakah aku dituduh sebagai perempuan yang mau merebut suaminya? Astaghfirullah…
“Ruli ingin sekali kenalan denganmu. Mau kan? Dia orangnya juga enak diajak curhat kok. Jauuuh lebih enak daripada aku. Kamu mau?”
“Memangnya… kalau sama kamu, kenapa?”
“Aku… aku hanya mau… hatiku tetap bersih, juga hatimu. Kita kan tidak tahu akan jadi apa kita kalau kita terus seperti ini. Aku… aku takut kehampaanmu makin membuat kita tak terpisahkan…seperti yang mulai kurasakan”
Sudah kuduga…
Tanpa terasa, mataku menghangat. Aku kembali merasa hampa… Kosong. Sekosong tatap mataku ke depan, ke layar bioskop yang menyajikan “Janji Joni”.
Tuhan, lalu kemana harus kucari teman berbagi?
Tolonglah, sebab aku sedang merasa amat tidak berbahagia saat ini…

Kurasakan hangat genggam tangan Rahar di telapak tanganku.
“Maaf, San”
Pelan kutepis tangannya. Aku hanya mengangguk. Kelu.

Terlalu Sedikit Untukmu

Minggu pagi yang cerah. Kami siap-siap untuk jalan-jalan. Hanya ke mall yang dekat. Sebab ia, suamiku, katanya sudah capek selama enam hari bawa mobil. Jadi harusnya satu hari ia istirahat. Kuambil tasku yang baru kubeli tiga hari lalu di kantor.
“Tas baru?” tanyanya tiba-tiba.
“Ya”. Aduh, apa lagi komentarnya?
“Beli di mana? Berapa?”
“Di kantor, ada teman yang jualan. Hanya lima belas ribu rupiah”
“Jangan seperti orang kayalah! Koleksi tas kayak kebanyakan uang”
Kugigit bibirku perih. Aku hanya punya tas total lima biji. Itu dengan hitungan tiga sudah rusak parah, dalam artian talinya sudah nyaris putus saking lamanya. Satu sudah lusuh dan sakunya kena tinta pulpen yang menyebabkan warna biru luntur yang buruk. Dan ini yang terbaru, lima belas ribu! Bayangkan, seorang web designer pakai tas lima belas ribuan! Sok kayakah aku, sementara teman-temanku sesama profesi sudah pakai Braun Buffel asli, dan bahkan teman ngajiku yang penjaga wartel itu punya tas seharga tujuh puluh lima ribu rupiah!
Kehilangan mood kuganti tasku dengan tas yang sudah luntur itu. Biarlah, biar dikira istri gembel sekalian!
Makan siang di mall, aku menahan laparku sangat. Ia makan dengan seporsi nasi lus lauk pauk lengkap, begitu juga anakku. Sementara aku hanya minum sebotol teh.
“Nggak makan?” tanyanya.
“Takut boros. Kan uang kita terbuang dengan lima belas ribu harga tasku”
“Begitu saja dimasukkan ke hati. Makanlah, nanti maagmu kambuh”
Aku menggeleng keras. Sudah tiap hari kumat, kalau kautahu. Bagaimana bisa aku makan siang, sementara kau menuntut terus untuk memberi lima juta rupiah tiap bulan untuk ayah ibu, dan keempat adik-adikmu? Memangnya gajimu cukup untuk itu? Belum lagi kredit rumah, mobil, dan segala macam asuransi. Kaupikir siapa yang bayar?
Saat aku akan tambah minum, ia mencegahku.
“Mau ngapain?”
“Tambah minum”
“Ini saja bekas Salima dan Hasan”
Aku nyengir. Pahit. Kulihat sisa ayam goreng ngambang di gelas softdrink bekas Hasan, dan bekas nasi di bibir gelas Ima.
Pulang dari mall, aku masak … mie instan! Lalu kupenuhi gelas besarku dengan air mineral hingga aku menangis saking sedihnya. Aku seperti tikus yang nyaris mati kelaparan di lumbung padi milik sendiri!

Berapa % true story di dalam karya2 saya?

January 17th, 2008 by mumtazstore

Nggak terasa sudah 22 tahun saya nulis. Bukan belajar menulis abcd. Maksudnya nulis-nulis sesuatu dan mempublish-nya di media. Sejak cerpen remaja saya dimuat pertama kali thn 85 di majalah Hai (plis jgn tanya judul… udah lupa), sampe sekarang alhamdulillah punya 16 buku karya sendiri/duet, dan 16-an antologi (keroyokan), saya masih teruuus belajar dan masih ngerasa jadi pemula.

            Herannya, setelah berpuluh2 tahun nulis, kok yaaa masih bnyk aja yg tanya dan curiga (menuduh?) bahwa tulisan saya isinya TRUE STORY semua. Emang kelihatannya gitu ya? Hehehe…

            Thanks for the questions. Sekarang izinkanlah saya membuka rahasia. Tadaaaa… (huh, sok seru!)

            Saya memang mengambil hampir semua (99%) pengalaman sebagai ide atau setting cerita. Pengalaman saya, ortu, saudara, teman2, juga semua yg saya baca, dengar, lihat, dan rasakan. Tapi ‘true story’ itu juga saya racik dengan fantasi dan imajinasi. Jadi nggak murni true story. Atau gak 100% imajinasi. Maksud saya sih biar saya cepet ‘in’ ke tulisan2 tersebut.

            Misalnya novel pertama saya, Nyanyian Bintang (Asy Syamil, Bdg), itu karakternya beberapa saya ambil dari temen2 saya, diantaranya para tukang nasyid alias munsyid. Setting band-nya saat itu karena saya lagi terpana dg popularitas Peterpan, dan baca sebuah artikel di majalah tentang Icha, salah satu vokalis Jikustik yang cukup taat beragama. Nah, saya racik deh dengan imajinasi saya.

            Novel Janji Matahari (Asy Syamil, Bdg) itu settingnya UI ya? Tapi gak berani saya klaim, takut bnyk manusia yg GR, secara kisahnya diambil plek buat itu novel. Tentu dg tambahan imajinasi saya. Setelah novel itu terbit, saya memang diserbu adek2 mahasiswa UI yg rame2 ngomong, "Aaaarrgggh, Teh, itu mah kita bangeeeet. Teh, dosennya pak X ya?" Hlo? Ya sudahlah… biarkan yg GR tambah GR :) Gawatnya si dosen ‘tertuduh’ itu kenal saya. Mati! Akhirnya saya jadi males ketemu dosen tsb, yg skrg saya pikir2, naha atuh saya yg males, kan belum tentu juga dia baca dan se-GR mahasiswi2 tadi :)

            Novel ketiga, Strawberry Shortcake (Mizan, Bdg), ini true-blue-story banget. Jgn tanya itu storynya siapa. Pokoknya true pisan. Tapi tentu ditambah dan ditambal sulam dg imajinasi saya. Tentu dg maksud supaya saya tidak dikutuk oleh para tokoh dalam cerita itu krn telah membuat dan merekayasa kisah pahit mereka jadi sebuah novel :) ,yg endingnya pahit juga (padahal ending sebenarnya sih lumayan manis kok. Tapi kalau saya tulis juga di novel itu, jadi sinetron sekaleee… huh, saya kan anti sinetron!).

            Novel keempat saya judulnya Jodoh Dari Surga (Qultum Media, Jkt). Ini tokohnya saya ambil dari karakter nyata. Storynya… yaa gitu deh. Ada true-nya, ada imajinasi-nya. Terutama yg bagian sms2an itu… true banget lho.

            Terus Gado2 Bu Sakina (GIP, Depok) … hehehe… itu mah sebagian besar kisah ricuhnya saya sbg emak2. Mungkin krn ‘membumi’, saya sering ditemui para ibu yg bilang, "Mbaak, kita banget yaa? Thanks ya mbak". Yeee, ngaku2… heran, pada GR aja :) . Itu kan 80% kisah saya beneran…

            Kalau cerpen2 mah nggak kehitung yang tanya dan mengaku2 bahwa itu kisah hidupnya dia banget. Ya sudahlah…

            Jujur, saya seneng banget. Artinya karya2 saya diterima dg baik, bahkan hingga tahap diaku2 sbg kisah hidup para pembaca. Saya hanya mau berpesan, tetaplah membaca apaaa saja (termasuk karya saya… terserah mau beli, pinjam, atau minta sama yg punya — jangan sama saya, krn saya hanya punya masing2 1 eksemplar sbg arsip… menyedihkan!), kritisi dan ambil hikmahnya. Khusus utk karya2 saya, tetaplah mengaku2 sbg ‘ini kisahnya gue banget’, krn berarti anda menyelami karya2 saya. Tetaplah berbagi cerita dg saya. Kirimi saya sms (jgn email krn di sini internetnya dudulz, msh setia sama telkomnet, wifone, dan telkomsel flash… mau pake cablevision jaringannya blum masuk), and be my contacts.

            Oya… kalo anda bener2 menginspirasi saya, saya pasti tulis nama anda di acknowledgment karya saya. Saya tiap nulis bagian itu suka serasa lagi kasih sambutan menang Oscar deh:). Tapi selalu ada seseorg yg saya tulis di bagian itu. Sudahlah, baca saja dan JGN KETERUSAN NEBAK2… cape deee… emangnya acara quiz!

cinere, saat kena writer’s block tiba2

17Jan08

abis terlalu happy denger sebuah berita:)